Jangan cuma scroll !
Coba jujur, berapa jam sehari kamu pegang HP? Tiga jam? Lima jam? Atau mungkin lebih?
Era digital itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, dunia ada di genggamanmu; semua informasi, ilmu, dan networking cuma sejauh tap layar. Tapi, di sisi lain, kalau salah pakai, kita cuma akan terjebak di pusaran scroll tak berujung yang bikin waktu habis sia-sia. Faktanya, menurut laporan terbaru, anak muda yang melek digital bukan cuma yang jago main TikTok, tapi yang bisa mengubah scroll jadi skill.
Sebagai anak Aliyah, kamu adalah generasi yang paling diuntungkan sekaligus paling ditantang. Mau jadi creator, programmer, atau leader masa depan? Kuncinya bukan seberapa canggih gadget-mu, tapi seberapa cepat kamu mau upgrade diri.
Inilah 6 tips jitu, bahasa ringan, yang wajib kamu terapkan untuk mengembangkan diri di tengah banjir teknologi.
6 Tips Pengembangan Diri di Era Digital
1. Jadikan Google dan YouTube “Guru Privat” Terbaikmu
Lupakan anggapan bahwa belajar cuma bisa di kelas. Semua skill yang lagi hype—mulai dari cara membuat podcast keren, dasar-dasar coding Python, sampai public speaking—tersedia gratis. Manfaatkan platform seperti Coursera, Udemy (untuk materi gratisnya), atau bahkan tutorial step-by-step di YouTube. Stop mencari hiburan saja, ubah history search-mu jadi daftar materi pembelajaran!
2. Kuasai “Bahasa Baru”: Literasi Data dan Critical Thinking
Di era hoax dan fake news, kemampuan memilah informasi itu lebih penting dari kuota internet. Ini namanya Berpikir Kritis atau Critical Thinking. Jangan telan mentah-mentah apa yang viral. Latih dirimu untuk:
- Mencari sumber asli dari suatu berita (Cek & Re-check).
- Mempertanyakan kenapa suatu brand atau isu bisa tiba-tiba ramai.Ini adalah soft skill paling mahal yang dicari perusahaan masa kini!
3. Bangun Personal Branding Positif (Digital Portofolio)
Mulai sekarang, anggap akun media sosialmu sebagai resume digital. Apa yang kamu posting akan menunjukkan siapa dirimu. Jika kamu suka desain, unggah hasil karyamu. Jika kamu jago Bahasa Inggris, buat konten edukasi singkat. Portofolio digital ini akan lebih berharga daripada nilai rapormu saat kamu melamar magang atau beasiswa. Tunjukkan skill-mu, jangan cuma pamer gaya hidup!
4. Belajar Hard Skill Digital yang Relevan
Hard skill digital itu wajib. Kamu tidak harus jadi programmer sejati, tapi cobalah kuasai satu atau dua tools yang berguna:
- Desain Grafis Dasar: Kuasai Canva atau Figma untuk membuat presentasi dan konten yang menarik.
- Manajemen Dokumen: Mahir menggunakan Google Workspace (Docs, Sheets, Slides) atau Microsoft Office.
- Dasar Digital Marketing: Pahami cara kerja SEO atau strategi media sosial.Ingat, ini adalah skill yang akan memberi nilai jual tinggi saat kamu kuliah atau bekerja nanti.
5. Atur Batasan Jelas: Digital Detox Itu Kebutuhan
Terlalu lama menatap layar bisa memicu burnout dan cemas (FOMO). Kembangkan diri juga berarti menjaga kesehatan mental. Tetapkan waktu digital detox setiap hari. Misalnya, matikan notifikasi HP setelah jam 9 malam, atau alokasikan waktu khusus untuk olahraga dan interaksi tatap muka dengan teman (tanpa HP!). Keseimbangan online dan offline adalah kunci produktivitas jangka panjang.
6. Jalin Networking Positif di Komunitas Online
Gunakan grup online atau forum untuk berkolaborasi, bukan cuma untuk ghibah atau spam. Cari komunitas yang punya minat sama—entah itu debat, fotografi, atau ilmu pengetahuan. Berinteraksi dengan orang-orang yang lebih pintar atau punya passion sama akan mendorongmu keluar dari zona nyaman dan membuka peluang baru, seperti proyek kolaborasi atau mentorship.
Penutup
Mengembangkan diri di era digital itu bukan tentang berlomba-lomba mengikuti semua tren, melainkan tentang memilih alat mana yang paling efektif untuk membentuk masa depanmu. Ingat, smartphone di tanganmu adalah superkomputer, jangan biarkan ia menjadi sekadar mainan. Ubah waktu scroll menjadi waktu skill, dan kamu akan melihat dirimu bertumbuh jauh lebih cepat dari yang kamu bayangkan! (yas)



